Bagaimana Cara APRIL Mengelola Hutan Tanaman Dengan Konsep Terbarukan?

april asia

APRIL Group memang menjalankan operasionalnya dibawah kebijakan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Atau APRIL mengenalnya dengan istilah sustainable forest management policy. Tentu kebijakan ini menjadi suatu panduan tata kelola 1 juta hektar yang dialokasikan untuk grup APRIL untuk kehutanan dibawah izin konsesi pemerintah dimana sebanyak 480.000 hektar dari luasnya disisihkan untuk perkebunan secara berkelanjutan. Area ini turut meliputi lahan hutan tanaman terbarukan generasi ketiga dan keempat yang ditanam sejak pertama kali di tahun 1993. Pembentukan hutan tanaman sendiri oleh APRIL Asia rampung di tahun 2014 silam.

Pada sisa lahan yang ada, APRIL Indonesia menyisihkan untuk perlindungan wajib baik bagi penggunaan masyarakat, infrastruktur serta juga area yang secara sukarela disisihkan untuk konservasi dan restorasi ekosistem atau yang dikenal dengan istilah RER belakangan ini.

Konsep Hutan Tanaman Terbarukan Oleh APRIL Group

APRIL Group yang melakukan usaha di bidang pulp dan kertas memang menerapkan tata kelola hutan tanaman dengan konsep terbarukan. Tiga spesies utama yang dilakukan untuk menghasilkan pulp dan kertas adalah Acacia mangium, Eucalyptus dan Acacia crassicarpa yang mampu tumbuh dengan sangat cepat serta spesies hibrida untuk memenuhi permintaan konsumen. Program perbaikan genetik alami yang dilakukan ini juga untuk berupaya dalam meningkatkan hasil dari masing – masing spesies dan meningkatkan suatu langkah produktivitas.

Baca juga: PT. RAPP sebagai Perusahaan yang Aktif Menjaga Kelestarian Lingkungan

APRIL saat ini memang telah berhasil memperkerjakan lebih dari 9000 pekerja perkebunan dengan jumlah yang bisa bertambah sampai dengan 13.000 selama periode panen. APRIL turut melakukan kerjasama dengan mitranya dalam melakukan panen antara 80.000 sampai 90.000 hektar hutan tanaman per tahun yang juga turut bekerja berdasarkan atas pedoman pemerintah dalam area konsesi yang turut diberikan. Area – area ini ditanami kembali dengan cepat lebih dari 200 juta bibit setiap tahunnya.

Dalam usaha hutan tanaman dengan konsep terbarukan, APRIL group menerapkan model ring plantations sebagai salah satu cara untuk melindungi hutan konservasi dari perambahan dan degradasi. Hutan tanaman akasia yang produktif turut didirikan di sepanjang pinggiran konsesi dalam menciptakan zona buffer yang akan membantu mengonservasi area gambut di bagian inti atau tengah. Hutan tanaman ini juga menerapkan model untuk menurunkan kemungkinan terjadinya pembalakan liar dan perambahan manusia.

Pendekatan model Ring Plantations oleh APRIL group sendiri dilakukan untuk memungkinkan penghasilan ekonomi dan membuka kesempatan kerja yang lebih baik untuk mendukung penghidupan masyarakat setempat. Pendekatan ini turut berupaya mencapai keseimbangan antara hutan tanaman yang terbarukan, konservasi dan perlindungan alam. Pendekatan model Ring Plantation sendiri juga dikembangkan sebagai sebuah tanggapan atas tantangan yang timbul pada lahan yang tidak dikelola dimana hal tersebut juga rentan atas perambahan dan degradasi melalui pembalakan liar atau kebakaran. Pendekatan ini mengintegrasikan hutan tanaman dan lahan konservasi sebagai suatu bagian dari manajemen landscape holistik yang juga mencakup upaya pencegahan kebakaran dan manajemen hidrologi.